TNBB – Ekowisata Nan Eksotik

Posted by admin, on September 28th, 2011 |  1 Comment

Bali, wisatanews – Destinasi wisata lingkungan hidup yang lebih dikenal dengan Ekowisata, telah lama dikembangkan di Indonesia, salah satunya dengan pengembangan Taman Nasional diberbagai daerah, dimana sebelumnya, Taman Nasional hanya dibatasi dengan sebagai Pusat Konservasi ataupun Pusat Penelitian. Potensi keanekaragaman Flora dan fauna yang dimiliki Taman nasional itulah yang kemudian dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjunginya. Salah satunya Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Selain sebagai ekowisata, Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Bali yang memiliki ekosistem asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung Curik Bali (Leucopsar rothschildi, streesman 1912). Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.493/Kpts-II/1995 tanggal 15 September 1995, telah ditunjuk Taman Nasional Bali Barat dengan luas kawasan 19.002,89 Ha yang terdiri dari 15.587,89 Ha berupa wilayah daratan dan 3.415 Ha berupa perairan yang secara administratif terletak di Kabupaten Jembrana dan Kab. Buleleng.

Taman Nasional Bali Barat dikelola dengan sistem zonasi, dimana sesuai dengan SK Direktur Jenderal PHKA No.SK.143/IV-KK/2010 tanggal 20 September 2010 tentang Zonasi Taman Nasional Bali Barat, bahwa TN. Bali Barat terbagi menjadi beberapa zona diantaranya : Zona Inti seluas ± 8.023,22 Ha, Zona Rimba ± 6.174,756 Ha, Zona perlindungan Bahari ± 221,741 Ha, Zona Pemanfaatan ± 4.294,43 Ha, Zona Budaya, Religi dan Sejarah seluas ± 50,570 Ha, Zona Khusus ± 3,967 Ha dan Zona Tradisional seluas ± 310,943 Ha. Taman Nasional Bali Barat dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan, penelitian, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Jalak Bali merupakan ikon Provinsi yang disebut sebagai Surganya Wisata Dunia, bahkan Fauna telah dijadikan Lambang Provinsi Bali yang saat ini dpimpin oleh Made Mangku Pastika. TNBB melindungi populasi Jalak Bali beserta ekosistem lainnya seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem hutan pantai dan ekosistem hutan daratan rendah sampai pegunungan sebagai sistem penyangga kehidupan terutama ditujukan untuk menjaga keaslian, keutuhan dan keragaman suksesi alam dalam unit-unit ekosistem yang mantap dan mampu mendukung kehidupan secara optimal.

Selain itu, TNBB juga ditujukan untuk laboratorium lapangan bagi peneliti untuk pengembangan ilmu dan teknologi, budidaya penangkaran flora dan fauna untuk kebutuhan protein, tempat pendidikan untuk kepentingan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi masyarakat dan yang terakhir untuk ekowisata pada sejumlah kawasan dalam TNBB.

Potensi TNBB meliputi berbagai jenis flora dan fauna liar, yang berstatus langka, dilindungi maupun yang keberadaannya masih melimpah, habitat dan letak geomorfologinya serta keindahan alamnya yang masih dalam keadaan utuh. Ekosistem di dalam kawasan TNBB cukup potensial dan lengkap yang meliputi perairan laut, pantai dan pesisirnya, hutan dataran rendah sampai pegunungan merupakan habitat alami bagi hidupan liar yang juga menunjukkan tingginya keanekaragaman hayati antara lain terumbu karang dan biota laut lainnya, vegetasi mangrove, hutan rawa payau, savana dan hutan musim.

Flora dan fauna yang cukup beragam, sampai saat ini telah diidentifikasi 176 jenis flora meliputi pohon, semak, tumbuhan memanjat, menjalar, jenis herba, anggrek, paku-pakuan dan rerumputan. Untuk jenis fauna terdiri dari 17 jenis mamalia, 160 jenis burung (aves) , berbagai jenis reptil dan ikan.

Jika Anda ingin melihat Habitat terakhir Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat, maka itu bisa ditemukan di Semenanjung Prapat Agung (tepatnya Teluk Brumbun dan Teluk Kelor). Hal ini menarik karena dalam catatan sejarah penyebaran Jalak Bali pernah sampai ke daerah Bubunan – Singaraja (± 50 km sebelah Timur kawasan).

Kekayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di Taman Nasional Bali Barat baik flora maupun fauna cukup potensial sebagai aset dan sumber plasma nutfah. Selain karena burung jalak bali yang merupakan satwa utamanya, dikawasan Taman Nasional Bali Barat ini dijumpai 2 (dua) jenis primata yaitu kera abu (Macaca fascicularis) dan Kera Hitam (Tracyphitchecus auratus). Penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat hampir sangat mudah diketemukan di kawasan Taman Nasional Bali Barat .

Atraksi Kera Hitam merupakan satwa yang sangat disenangi para wisatawan lokal maupun luar negeri, keindahan warna hitam dan keunikan habitatnya merupakan daya tarik sendiri bagi wisatawan yang melihatnya, bahkan tidak jarang wisatawan banyak yang berkunjung ke Taman Nasional Bali Barat hanya ingin melihat Kera Hitam, lebih jauh lagi Kera Hitam disamping dijadikan objek untuk wisatawan juga menyimpan sumber Plasma nutfah yang tidak ternilai, oleh para peneliti sering dijadikan objek penelitian dengan melihat langsung kondisi habitat Kera Hitam dilapangan sehingga jelas populasi Kera Hitam dan habitatnya perlu dijaga kelestariannya demi sumber plasma nutfah.

Jadi, jika Anda ini mendapatkan pengetahuan yang komprehensif mengenai Konservasi Flora dan Fauna, utamanya Jalak Bali, TNBB adalah tempat yang sangat layak dijadikan rujukan. Namun, tidak perlu khawatir, potensi alam dan keindahan alam seperti terumbu karang. vegetasi mangrove ataupaun pun savana bisa Anda temukan di tempat ini. Anda bakal bisa berwisata sambil menambah pengetahuan.(Man/berbagai sumber) (Foto : wisatabalibarat.wordpress.com)

No related posts.

Tags: Bali

  • cool things

    Jadi inget, dulu pernah coba nangkarin jalak bali sama temen. susah bgt. default5734 {“method”:”validate”,”params”:[],”id”:1,”jsonrpc”:”2.0″}